Banyak orang bilang cinta itu takdir.
Tak sedikit yang bilang cinta adalah pilihan.
Bagiku, tak peduli takdir atau pilihan.
Karena keduanya hanya tertuju padamu. Kamu.
bismillahirrohmanirrohim...
Jumat, 21 Agustus 2015
Selasa, 21 Oktober 2014
Membongkar Misteri
Refleksi
Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Bersama Prof.
Dr. Marsigit M. A.
Rabu, 15 Oktober 2014, pukul
07.00-08.40 WIB
MEMBONGKAR
MISTERI
(Sebuah
Jawaban Atas Pertanyaan)
Di
dunia ini terdapat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Masing-masing
pertanyaan mempunyai misterinya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah
jawaban-jawaban dari beberapa misteri pertanyaan.
Misteri
pertanyaan pertama yaitu mengapa tidak ada itu ada? Dimisalkan dalam sebuah
certia terdapat sepasang suami isteri dan seorang adik. Seorang adik mengetahui
bahwa kakak lelakinya tengah kelelahan maka ia memanggilkan seorang tukang
pijat ke rumahnya dan meminta sang kakak untuk datang. Sang kakak berencana
datang ke rumah adiknya untuk pijat bersama dengan isterinya. Namun tiba-tiba sang
isteri mendapat undangan yasinan di rumah tetangga. Sang suami juga merasa terlalu
lelah untuk datang ke rumah adiknya sehingga rencana pijat itu gagal. Sang
isteri juga telah menolak undangan yasinan. Sang suami dan isteri tersebut tidak
jadi pijat dan tidak jadi yasinan. Namun ternyata mereka mempunyai kegiatan
lain yang tak kalah pentingnya.
Itulah
yang dikatakan bahwa tiada itu ada. Tiada pijat tapi ada kegiatan lain. Tiada
yasinan tapi ada kegiatan lain pula. Jadi kesimpulannya maksud dari tiada itu
ada adalah sesuatu yang seolah-olah tidak ada tetapi sebenarnya ada. Tiada dan
ada yang dimaksud berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Ini merupakan
pandangan Rene Descartes.
Misteri
pertanyaan kedua yaitu bagaimanakah memahami filsafat itu? Jawaban dari misteri
ini teramat sangat sederhana, baca saja eleginya, maka kau akan mendapatkan
jawabannya.
Misteri
pertanyaan ketiga adalah mungkinkah seseorang mengerti dan memahami keinginan
orang lain? Sang dewa ilmu menjawab bahwa mengerti dan memahami diri sendiri
saja suah, bagaimana dengan orang lain. Pada dasarnya filsafat itu ada dua,
kalau dipikirkan diluar diri kita maka bagaimana kita memahaminya? Dan kalau di
dalam pikiran kita bagaimana menjelaskannya?
Misteri
pertanyaan keempat adalah tentang siapakah dirimu? Diri kita adalah siapa saja
yang kita inginkan. Apa saja.
Misteri
pertanyaan kelima yaitu apakah tepat pada waktu tertentu belum tentu tepat
untuk waktu yang lain? Yah, disitulah letak kelemahan sang dewa ilmu. Ia
terlalu besar determinisnya terhadap calon dewa-calon dewanya. Selain itu
perbedaan usia juga mempengaruhi sisi komunikatif seseorang. Oleh karena itu
diimbangilah dengan adanya sumber ilmu lain
berupa blog. Maka tugas para calon dewa adalah membacanya.
Misteri
kelima memunculkan misteri pertanyaan baru yaitu cocokkan filsafat untuk anak-anak?
Tentu saja jawabannya tidak cocok. Yang cocok untuk anak-anak adalah kebijakan
yang dihasilkan dari filsafat tersebut.
Misteri
pertanyaan keenam yaitu bagaimana cara belajar filsafat? Cara paling tepat
yaitu dengan mengubah pandangan tentang filsafat itu sendiri. Jangan anggap
filsafat itu tentang mengadu pikiran, mencari antitesis untuk mencari sistesis,
jangan. Kita sendiri yang harusnya berfilsafat karena sesungguhnya filsafat
tidak lain dan tidak bukan adalah dirimu sendiri.
Misteri
pertanyaan ketujuh, pengertian filsafat apakah sama bila ditanyakan dengan
filsafat lain? Jawabannya tidak akan sama karena itu menyangkut kualitas 2, 3,
4, dan seterusnya. Sedangkan yang sama adalah kualitas 1. Walaupun secara
substansi ontologis akan sama karena berada dalam pikiran kita, ideal. Teori
dari Plato. Plato adalah dewa ilmu dari idealis, sesuatu yang ada dalam pikiran
kita. Sedangkan sesuatu yang ada di luar pikiran kita disebut realis. Dewa
ilmunya Aristoteles.
Misteri
pertanyaan kedelapan yaitu tentang hakikat menjadi guru matematika yang baik.
Itu merupakan pertanyaan sifat atau karakter, maka kita harus memahami karakter
baik itu dahulu. Baik yang ditanyakan baik secara statis atau dinamis? Maka hal
paling tepat untuk menjadi guru matematika yang baik adalah dengan mmempromosikan
kebaikan itu sendiri dan ada secara normatif, ikhtiar maupun hasilnya.
Misteri
pertanyaan kesembilan yaitu tentang prinsip. Prinsip itu ada dua, identitas dan
kontradiksi. Identitas karena aku sama dengan aku.2=2. x=x Semua itu terjadi dalam pikiran, hanya diandaikan,
hanya terjadi di akhirat. Sedangkan kontradiksi itu aku tidak sama dengan aku. 2 tidak sama dengan 2. x tidak sama dengan x. Hal ini terjadi di luar pikiran atau terjadi di dunia dan
dikarenakan di dunia ini segala sesuatunya sensitif terhadap ruang dan waktu.
Misteri
pertanyaan kesepuluh yaitu tentang filsafat yang sempurna. Bagaimanakah
pernyataan yang menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang sempurna?
Ternyata informasi itu tidak lengkap. Harusnya sempurna di dalam
ketidaksempurnaan. Misal manusia tidak dapat memandang bagian belakang darinya,
yang bisa selalu dipandang hanya bagian muka, depan. Aliran ini disebut dengan reduksionisme.
Namun
justeru ketidaksempurnaan itulah yang memudahkan kita. Bayangkan jika kita
sempurna, kita dapat mengingat semua kejadian sekaligus, menceritakannya
sekaligus, maka tidak akan jelas cerita tersebut, tidak akan dapat ditangkaplah
cerita itu. hal in terjadi karena manusia bicara secara linear, seri, antri
sehingga bicaranya menjadi terbatas. Itulah aliran perfeksionisme.
Misteri
pertanyaan kesebelas yaitu tentang bagaimana memahami orang lain apalagi
pikirannya? Jawaban dari misteri ini cukup singkat, baca saja tulisannya.
Dengan begitu kita akan mengetahui pikiran orang tersebut.
Demikianlah
ulasan tentang sebelas misteri pertanyaan dan pembongkaran jawabannya. Semoga
ulisan ini dapat memberikan manfaat bagi saya sendiri maupun orang lain yang
membacanya. Aamiin.
Kuliah Perdana FPM
Refleksi Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Bersama Prof. Dr. Marsigit M. A.
Rabu, 1 September 2014
PENGENALAN
FILSAFAT
Filsafat
membicarakan tentang sesuatu yang ada dan yang mungkin ada yang berada pada
ruang dan waktu. Cara mempelajari filsafat yang paling tepat adalah dengan
menggunakan bahasa analog, dengan cara yang intensif dan ekstensif. Yang
sedalam-dalamnya serta seluas-luasnya. Demikian pula dengan ruang dan waktu,
mempelajari filsafat haruslah dengan ruang dan waktu dalam arti yang
seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.
Adanya
ruang dikarenakan oleh adanya waktu. Sedangkan waktu tidak akan punya arti
tanpa adanya ruang. Intinya ruang dan waktu saling berkaitan. Keduanya tidak
dapat dipisahkan satu sama lain sehingga selalu bisa muncul pertanyaan kapan
dan dimana. Kapan dan dimana itulah letak dari suatu pengetahuan.
Misalkan 2+3=5 benar jika terbebas dari ruang dan waktu.
Namun jika terikat dari ruang dan waktu 2+3 belum tentu 5. Misalnya 2 buku ditambah 3
pensil. 2 terikat pada ruang buku dan 3 terikat pada ruang pensil. Maka 2+3 belum tentu 5. Tidak bisa dikatakan 5 buku
ataupun 5 pensil.
Contoh
lain 2<3 benar jika terbebas dari ruang dan waktu.
Namun bila misalkan kita menulis angka 2 pada triplek besar dan menulis 3 pada
papan tulis kecil, maka 2 akan lebih besar daripada 3.
Namun
hal seperti itu tidak dapat diterapkan di sekolah, di SD, SMP, atau SMA karena
matematika anak-anak itu merupakan matematika yang menggunakan intuisi. Artinya
matematika anak sekolah merupakan matematika yang terikat ruang dan waktu.
Berbeda dengan matematika orang dewasa yang tidak terikat ruang dan waktu.
Belajar
filsafat itu tidak perlu mahal dan dilakukan melalui hal-hal yang sepele, yang
kecil-kecil. Berbeda dengan oran berpolitik yang harus dilakukan bersama-sama,
belajar filsafat dapat dilakukan sendirian. Belajar filsafat digunakan untuk
mencari kebenaran, sekedar menjadi saksi. Manfaat belajar filsafat itu tidak
langsung, misalnya menjadi saksinya pendidikan matematika di indonesia. Tujuan
utama dari saksi itu adalah agar kita soan dan santun terhadap ruang dan waktu.
Jadi
filsafat itu selalu sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.
Selasa, 03 Juni 2014
Minggu, 01 Juni 2014
Rabu, 12 Maret 2014
Matematikawan Berbudaya part 2
MANFAAT ETHNOMATEMATICS DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Mata Kuliah Ethnomathematics bersama Prof.
Dr. Marsigit M.A. dan Nila Mareta, M.Sc
27 Februari 2014
27 Februari 2014
Ethnomathematics berada pada ranah pendidikan.
Ethnomathematics hanya ditujukan untuk orang-orang yang mau mempelajari
Matematika sebab Ethnomathematics ada hubungannya dengan sejarah Matematika.
Sejarah Ethnomathematics itu diawali dengan cara berfikir matematika para
pedagang di Sau Paulo, Brazil. Mengapa para pedagang di sana memiliki cara
berfikir Matematika yang lebih cepat bila dibandingkan dengan metode Matematika
yang dipakai di kelas? Penelitian ini dilakukan oleh Teresiano dan lebih
dikenal dengan istilah Street
Mathematics.
Ethnomathematics melatih kepekaan, kepedulian,
dan mengembangkan metode secara profesional untuk dapat minimal menangkap atau besar
lagi mengungkap Matematika apa yang melekat dalam suatu budaya. Sehingga dalam
suatu budaya, Matematika apa yang ada di dalamnya? Bukannya malah dibalik
Matematika dibudayakan.
Metode-metode yang digunakan dalam
Ethnomathematics diantaranya metode Triagulasi, metode Kualitatif dan
Deskriptif, Studi Kasus, Survey, Observasi dan sebagainya. Misalnya ditemukan
sebagian dari suatu artefak. Walaupun hanya sebagian, tetapi sangat bermanfaat
untuk diteliti antropologi. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif karena
datanya hanya sedikit. Tidakbisa menggunakan metode Kuantitatif.
Contoh lain yaitu kalau ditemukan sebagian
dari suatu tengkorak manusia purba. Hal ini juga akan sangat bermanfaat bagi
antropolog karena bisa diteliti usia, jenis kelamin, genetika, struktur tulang,
budaya, masyarakat, dan lain-lain. Dari sebagian tengkorak itu saja mampu
menghasilkan suatu data yang banyak yang setara dengan populasi.
Dalam Matematika ada yang namanya penelitian
Longitudinal. Penelitian Longitudinal merupakan penelitian jangka panjang
dengan subjek penelitian boleh hanya satu orang tetapi diteliti dari lahir
sampai tua atau minimal 10 tahun. Misalnya mengamati seorang anak. Ia akan
diteliti mulai dari berapa kali dia berkedip? Bagaimana respon jarak dekat?
Jarak jauh? Besar? Kecil? Jika ada
benda-benda atau unsur-unsur Matematika, bagaimnana dia bisa membedakan sedikit
dan banyak? dan sebagainya, kemudian dicocokkan dengan teori yang ada, misalnya
teori Perkembangan Kognitif Piaget. Hal ini merupakan contoh pemanfaatan data
dari Ethnomathematics yang sifatnya budaya atau cultural atau hasil dari
budaya, peradaban yang bisa berupa kebiasaan, interaksi masyarakat, karya
sastra tertulis, artefak-artefak, serta cara berfikir.
Indonesia mempunyai banyak budaya yang dapat
diidentifikasi unsur-unsur Matematika yang ada didalamnya. Contohnya ada Congklak (Purworejo), Pernikahan suku jawa yang bergantung
Matematika, Tradisi Babad Dalan (Gunung Kidul), Tari Angguk (Kulon Progo),
Aboge, Cowongan, Kesenian Thek-thek, Tingkepan (Purbalingga), Candi Prambanan
(Klaten), dan sebagainya.
Ethnomathematics bernuansakan teori dan
merupakan inovasi baru dalam dunia pembelajaran. Namun bagi Guru yang tidak
inovatif, tidak ada hubungannya dengan Ethnomathematics. Berbeda dengan Guru
yang inovatif. Ia bisa mengetahui prospek ke depannya, mengetahui kalau
pembelajaran Matematika harus dikelola secara profesional.
Salah satu caranya yaitu dengan mengubah
paradigma mengajar bahwa mengajar itu bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan
tetapi guru sebagai fasilitator agar siswa bisa belajar matematika. Paradigma
yang lebih progresif yaitu bahwa mengajar adalah kegiatan research atau penelitian yang bersifat kontekstual sehingga
kegiatan mengajar itu tidak akan sama setiap tahunnya.
Rabu, 26 Februari 2014
Identifikasi Unsur Matematika dari suatu Budaya
Matematisasi Budaya
Among
Among merupakan salah satu budaya jawa yang masih ada hingga saat ini. Budaya
ini masih dilestarikan di daerah Potrowangsan, Tirtorahayu, Galur, Kulon Progo,
DIY. Biasanya, among diperuntukkan bagi anak-anak kecil. Namun tidak menutup
kemungkinan orang-orang dewasa juga melakukannya. Among hukumnya tidak wajib
sehingga tidak semua orang harus melakukannya. Kebanyakan Among dilakukan oleh
orang-orang yang mampu. Tetapi mampu saja tidak cukup, mereka juga harus punya
kemauan untuk melakukannya.
Among biasa disebut dengan selapanan.
Selapanan yaitu ketika suatu hari beserta pasarannya bertemu dengan hari itu
lagi dan juga pasarannya. Misalnya Jumat Kliwon. Selapan hari setelah Jumat
Kliwon adalah Jumat Kliwon juga. Selapanan berasal dari kata selapan ditambah
imbuhan –an.
Lalu, berapa
harikah Jumat Kliwon bertemu dengan Jumat Kliwon itu?? Bagaimanakah kita
menghitungnya?? Pertama kita harus tahu dahulu, ada berapa banyaknya hari?? Ada
berapa banyaknya pasaran??
Banyaknya
hari ada 7 yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sedangkan
banyaknya pasaran ada 5 yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Jadi untuk mencari
berapa harikah selapan itu, kita bisa mencarinya dengan menghitung Kelipatan
Persekutuan kecil (KPK) dari banyaknya hari dan banyaknya pasaran. KPK dari 7
dan 5 adalah 35, sehingga selapan itu ada 35 hari. Itulah unsur matematika dari
budaya Among.
Langganan:
Komentar (Atom)

